Kamis, 10 Februari 2011

Proposal Up Grading AMM

A. Pendahuluan
“Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” (QS.Ash-Shoff:4)
Pergantian kepemimpinan dalam organisasi adalah suatu hal yang wajar terjadi termasuk di Angkatan Muda Muhammadiyah Cabang Patikraja (Pemuda Muhammadiyah, Nasyiatul ‘Aisyiyah, dan Ikatan Pelajar Muhammadiyah) pun belum lama telah mengadakan reorganisasi melalui acara Musyawarah Cabang. Pergantian tersebut membawa konsekuensi adanya pengurus baru dan program kerja baru serta hal-hal lain yang menyangkut gerak langkah organisasi.
Tentu hal yang demikian menuntut penyatuan visi, misi dan gerak langkah para pengurus agar perjalanan gerak langkah organisasi dapat terjaga dan mengalami peningkatan. Hal tersebut diperlukan untuk dapat menjalankan amanah kepemimpinan dengan baik dan agar dapat tercapai tujuan organisasi.Program kerja adalah upaya untuk mencapai apa yang menjadi tujuan organisasi. Namun program kerja yang telah dihasilkan dalam musyawarah perlu ditindaklanjuti dengan mencari strategi pelaksanaannya agar tidak hanya menjadi daftar angan-angan kosong semata.
Selain itu masih diperlukan upaya untuk lebih memahamkan pimpinan ortom di Muhammadiyah agar lebih bisa memahami apa yang menjadi tujuan Muhammadiyah, dengan pemahaman tersebut diharapkan mereka dapat memiliki semangat untuk memperjuangan Islam melalui organisasi otonom Muhammadiyah.

B. Nama Waktu dan Tempat
Up Grading Pimpinan Angkatan Muda Muhammadiyah Cabang Patikraja yang akan diselenggarakan pada hari Selasa tanggal 15 Februari 2011 di Aula Lantai 2 MTs Muhammadiyah Patikraja

C. Tujuan
1. Meningkatkan kualitas, pemahaman dan penghayatan anggota pimpinan akan nilai-nilai kemuhammadiyahan
2. Menambah semangat anggota pimpinan dalam berjuang menegakan Islam melalui persyarikatan Muhammadiyah
3. Terbentuknya pimpinan yang mampu bekerja sama untuk mencapai tujuan organisasi
4. Terciptanya tertib managemen organisasi
5. Terjalinnya komunikasi antar ortom dalam Muhammadiyah cabang Patikraja

D. Materi
a. Muhammadiyah Sebagai Gerakan Islam
b. Membangun Kerjasama Tim (Team Building)
c. Pemahaman Program dan Strategi Pelaksanaannya

E. Landasan
1. Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Muhammadiyah
2. Program Kerja Majelis Pendidikan Kader dan Pemberdayaan Masyarakat Pimpinan Cabang Muhammadiyah Patikraja
3. Hasil rapat koordinasi Angkatan Muda Muhammadiyah Cabang Patikraja pada Hari Jum’at tanggal 14 Januari 2011 di MTs Muhammadiyah Patikraja.

F. Peserta
a. Personalia Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah Patikraja = 35 orang
b. Personalia Pimpinan Cabang Nasyiatul ‘Aisyiyah Patikraja = 35 orang
c. Personalia Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Muhammadiyah Patikraja = 30 orang
Jumlah = 100 orang

G. Pengorganisasian
Penanggungjawab : Pimpinan Cabang Muhammadiyah Patikraja
Pengarah : Majelis Pendidikan Kader dan Pemberdayaan Masyarakat PCM Patikraja
Ketua Panitia : Dedy Ariyoyo
Sekretaris : Muhammad Syaeful Haq
Bendahara : Kamini
Sie Acara : Rakhman Kurniawan, Suryanti, Khaerul Wihartanto, Rizkika Trahutami
Sie Konsumsi : Kamilah, Suciyati, Ari Hestiningtiti, Siti Zaenah
Sie Perlengkapan : Rahmani Sidik, Daryanto, Munira Ikhwani Shofa, Siti Meiyati Faiqotin
Sie Transportasi : Zulkifli Swari Sadam, Agus Priyanti, Dian Felani, Arif Pujiarto
Sie Dekdok : Muhammad Nugroho, Fardinal Yahya, Santi Zahrotun Hayati, Indra Gunawan

H. Pendanaan
a. Pengeluaran
1. Administrasi : Rp 100.000,00
2. Konsumsi
- Makan Siang 100 x Rp 7.000,00 : Rp 700.000,00
- Snack 2 x 100 x Rp 2.500,00 : Rp. 500.000,00
- Snack pembicara dan tamu undangan : Rp 50.000,00
3. Perlengkapan dan tempat : Rp 450.000,00
4. Transportasi : Rp 250.000,00
5. Dekorasi dan Dokumentasi : Rp 100.000,00
6. Lain-lain : Rp 100.000,00 +
Jumlah : Rp 2.250.000,00
b. Pemasukan
1. Pimpinan Cabang Muhammadiyah Patikraja : Rp 300.000,00
2. Infaq Peserta 100 x Rp 10.000,00 : Rp 1.000.000,00
3. Sumbangan amal usaha dan warga Muhammadiyah : Rp 950.000,00 +
Jumlah : Rp 2.250.000,00

I. Manual Acara


J. Penutup
Demikian rencana Up Grading bersama Angkatan Muda Muhammadiyah Patikraja, saran dan kritik demi suksesnya kegiatan sangat kami harapkan.
Patikraja, 14 Januari 2011
Ketua Sekretaris


Dedy Ariyoyo Muhammad Syaeful Haq

Pimpinan Cabang Muhammadiyah Patikraja Majelis Pendidikan Kader & PM


Drs. H. Sakirun Sismanan, S.Pd
NBM: 563 365 NBM: 819 463

Selasa, 01 Februari 2011

AJA NGLOMBO



Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan Katakanlah Perkataan yang benar,niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. dan Barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, Maka Sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.(Q.S. Al-Ahzab:70-71)

Ayat Al-Qur’an yang ada dalam surat Al-Ahzab ayat 70-71 tersebut adalah salah satu ayat yang sering dibaca khotib. Ayat tersebut memerintahkan kepada orang-orang beriman supaya selalu bertaqwa kepada Alloh dalam setiap kondisi dan orang-orang yang beriman diperintahkan supaya melatih diri mengatakan yang benar agar Alloh memperbaiki amalan kita dan mengampuni dosa kita. Selanjutnya orang yang beriman diperintahkan untuk selalu mentaati Alloh dan Rosulnya, barangsipa yang dapat melakukannya itulah orang yang mendapat kemenangan besar.

Menurut Imam Syaukani; perkataan yang benar (qoulan sadiida) berarti perkataan yang bersesuaian antara dhohir dengan apa yang ada dalam hatinya. Oleh karena itu mari kita untuk senantiasa berkata yang sesuai dengan hati nurani kita, namun kita juga selalu berdoa semoga hati kita senantiasa mendapat petunjuk dari Alloh. Makna qoulan sadiida juga adalah perkataan yang jujur dan tidak mengandung kedustaan.

Orang yang beriman harus selalu menjaga nilai kejujuran dan menghindari kebohongan, dusta dan kesaksian palsu karena bohong, dusta dan kesaksian palsu adalah sifat orang munafik dan tidak beriman.

Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka Itulah orang-orang pendusta (Q.S An-Nahl: 105).
Maka kita diperintahkan untuk mengoreksi berita yang datang dari orang fasik karena ada kemungkinan merupakan dusta belaka yang bisa menyebabkan kedholiman terhadap pihak lain, sebagaimana firman Alloh dalam surat al-hujarat ayat 6:

Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang Fasik membawa suatu berita, Maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.

Kita mungkin bisa mengoreksi berita yang ada seperti apakah benar peristiwa pengeboman terhadap gedung WTC dan Pusat Militer Amerika Serikat di Pentagon dilakukan oleh seorang muslim dibawah Komando Usamah bin Laden seperti yang dituduhkan pihak Gedung Putih dan akhirnya menjadi alasan untuk menyerang Afganistan negeri muslim yang dituduh menjadi tempat persembunyian Usamah. Dengan alasan yang terbukti tidak benar yaitu berupa tuduhan Irak sebagai tempat pembuatan senjata pemusnah massal maka tentara Amerika dan sekutu menyerang pusat kebudayaan Islam Irak. Tidakkah semua itu merupakan alasan-alasan yang dibuat untuk menyerang Islam? Karena setelah jatuhnya Uni Sovyet mereka tidak lagi memiliki musuh?

Sebagaimana dulu ketika Amerika dan Uni Sovyet yang bersaing dalam perang dingin dan pembuatan persenjataan serta teknologi luar angkasa, apakah dunia tidak dibohongi oleh Amerika yang mengaku pada tahun 1969 telah bisa mendaratkan apollo 11 bersama 3 astronotnya ke bulan dengan berbagai kejanggalannya?

Serupa dengan itu kita perlu mengoreksi cerita holocaust dari Yahudi yang menyatakan bahwa ada 6 juta orang Yahudi yang dibunuh oleh Nazi Jerman pada Perang dunia II. Berita ini disebarkan oleh Yahudi untuk menarik simpati dan belas kasihan dari bangsa lain dan akhirnya menjadi alasan untuk mencari dukungan untuk mendirikan Negara Israel walaupun harus merebut tanah Palestina dengan tanpa memperhatikan hak-hak Bangsa Palestina.

Janganlah demi untuk menjaga citra diri yang positif atau untuk mencapai tujuan kita lalu kita mengadakan kebohongan, karena kita takut tergolong orang munafik.
Rosululloh dalam sebuah hadits riwayat Bukhari bersabda:
“Tanda-tanda orang munafik ada tiga; apabila berkata dia berdusta, bila berjanji dia mengingkari dan bila dipercaya dia khianat”

Imam Nawawi berkata dalam bab haramnya berdusta bahwa berdusta (al-kadzbu) adalah seseorang mengabarkan tentang sesuatu tetapi menyelisihi kenyataannya. Bukankah kita tidak suka dibohongi?, maka janganlah kita suka berkata bohong!

Sebagai orang yang beriman kita diingatkan Alloh agar tidak suka mengatakan apa-apa yang tidak kita perbuat sebagaimana dinyatakan didalam surat As-Shoof ayat 2 dan 3:
Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.

Rosululloh memang membolehkan dusta hanya dalam 3 hal, berdasarkan hadits yang telah diriwayatkan dari Ummu Kultsum bin Uqbah, dia berkata” Rosululloh SAW telah membolehkan berdusta dalam 3 keadaan; ketika berperang, mendamaikan orang, perkataan seorang suami kepada istrinya dan perkataan istri kepada suaminya”.

Walaupun demikian beliau adalah al-amien yang dapat dipercaya karena tidak pernah berbohong meskipun untuk bercanda. Ingatkah anda dengan canda Rosululloh kepada seorang perempuan tua yang minta didoakan agar bisa masuk surge, maka candanya adalah mengatakan bahwa nenek-nenek sepertinya tidak akan masuk surga. Perkataan seperti itu bukan dusta karena memang di surga orang akan dihidupkan dalam keadaan muda meskipun matinya telah tua renta.

Sebagai orang yang beriman kita harus menghindari kebohongan, meskipun sekedar basa-basi yang sudah menjadi kebiasaan dalam masyarakat kita, misalnya kita ditawari makanan, maka janganlah kita ringan-ringan saja mengatakan “Aku esih wareg miki nembe tes maem” padahal wetenge kencot banget. Dan ketika kita menawarkan sesuatu juga harus bukan hanya basa-basi, kalau memang ada dan kita rela maka tawarkan kepada saudara kita jika tidak yaa jangan ditawarkan jika hanya sekedar basa-basi.

Kejujuran adalah kunci kebahagiaan dunia akhirat, termasuk kebahagiaan didalam sebuah masyarakat terkecil yaitu keluarga, akan tercipta jika anggota keluarga saling memiliki kepercayaan dan menjaga nilai-nilai kejujuran. Maka kami mengajak kepada saudaraku semua mari kita jaga nilai kejujuran didalam keluarga kita, janganlah suka menyimpan dusta kepada istri kita, janganlah suka membohongi anak-anak kita meskipun untuk menenangkannya, misalnya anak kita jatuh lalu kita ngomong kodoke mlayu, atau watune nakal yaa, mengapa kita tidak berusaha jujur dengan mengatakan bahwa anak kita tadi kurang hati-hati dan mengajaknya untuk lebih berhati-hati, karena sesungguhnya segala ucapan dan perbuatan kita akan dimintai pertanggungjawabannya dan bagaimanapun juga jika kita menyimpan kebusukan maka suatu saat akan tercium juga sehingga nilai diri kita akan jatuh karenanya.

Sebaliknya jika kita mau jujur maka itu adalah sumber kenikmatan dan kebahagiaan. Dengan jujur maka kita tidak akan merasa ada beban dalam hati kita, dengan jujur dan keterbukaan maka kita akan dihargai dan kalaupun ada masalah maka orang lain juga akan turut membantu permasalahan yang ada.

Masyarakat bangsa kita juga perlu kita ingatkan agar senantiasa menjaga kejujuran dan tidak mudah berbohong lebih-lebih para pimpinan, karena perkataan seorang pemimpin akan lebih dirasakan akibatnya daripada omongnnya rakyat biasa. Tanggung jawab seorang pemimpin sangatlah besar sebagaimana besarnya tanggung jawab orang `alim. Oleh karena itu juga ancaman bagi pemimpin yang melakukan kebohongan publik. Hadis Rasul menyatakan bahwa ada tiga kelompok yang kelak di akhirat akan diacuhkan oleh Allah, yaitu (1) kakek-kakek yang berzina, (2) Penguasa yang banyak
berbohong dan (3) orang miskin yang sombong. Na`udzu billah min dzalik.

Oleh karena itu usaha mengingatkan pemimpin adalah salah satu perjuangan dalam memperbaiki kondisi bangsa ini. Gerakan moral anti kebohongan public yang digagas oleh Ketua PP Muhammadiyah Dien Syamsudin bersama para tokoh agama bangsa kita perlu menjadi pemicu bagi kita semua untuk lebih bisa jujur dan tidak mudah membohongi orang lain dan menjadi control social serta masukan bagi penguasa. Tidak meski kritik atau koreksi itu karena tidak suka atau ingin menggulingkan kekuasaan, maka negarawan sejati akan bisa menanggapi kritik dan saran secara arif dan bijak .

Masalah kerjasama dengan orang yang beragama lain dalam masalah muamalah atau sosial kemasyarakat tidak ada larangan. Kita boleh bertransaksi dengan orang kafir, boleh kerjabakti dengan mereka, boleh bekerjasama untuk membangun Negara kita, memberantas korupsi dan kejahatan yang lain yang ada di negeri kita. Yang dilarang adalah kerjasama dalam masalah aqidah dan ibadah, misalnya ibadah bersama, doa bersama, menghadiri upacara keagamaan misalnya natal atau buka puasa bersama digereja, dan mencampuradukan ibadah dan kepercayaan ajaran agama kita dengan ibadah dan kepercayaan agama lain.

Semoga Alloh senantiasa memberi petunjuk kita untuk menjaga lisan kita dari perkataan yang dusta dan sia-sia serta memberI kita lisan yang mampu untuk menegakan amar ma’ruf nahi mungkar karena inilah sebaik-baik ucapan.

Selasa, 25 Januari 2011

Amanah Kepemimpinan di Muhammadiyah

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha melihat.” (An-Nisa :58)

Menurut Anang Rikza Masyhadi dalam buku “Hadits-Hadits Politik” terbitan Suara Muhammadiyah menyatakan bahwa ayat diatas secara tersirat mengajak kita untuk memilih pemimpin yang berkompeten untuk mengemban amanah.Kompeten berarti profesional dan cerdas dibidangnya.

Kita patut meneladani Rosululloh SAW karena beliau adalah orang yang amanah sehingga mendapat gelar al-amiin. Sifat Rosul sendiri kita telah mengetahuinya, yakni: Sidik (benar), Amanah (dapat dipercaya), Tabligh (menyampaikan), Fathonah (cerdas).
Masalah kepemimpinan,reorganisasi dan rotasi jabatan dalam sebuah lembaga adalah biasa. Menjadi pemimpin atau memangku jabatan adalah amanah yang bernilai ibadah bila dilaksanakan dengan baik dan akan menjadi jalan kebinasaan dan kehinaan bila tidak bisa mengemban tugas dengan amanah. Dalam hadits Bukhari Muslim Rosululloh pernah mengingatkan Abdurrahman bin Samurah R.A:
“Janganlah engkau meminta jabatan, sebab jika engkau memangku jabatan tanpa memintanya terlebih dahulu, engkau akan diberi pertolongan dalam mengembannya; sedang jika engkau memangku jabatan dan sebelumnya engkau memintanya, engkau akan terbebani dalam mengembannya. Jika engkau sudah bersumpah untuk melakukan/meninggalkan sesuatu, namun engkau lalu melihat ada sesuatu lain yang lebih baik, maka ambillah yang lebih baik itu dan tebuslah sumpahmu yang dulu”

Dalam Hadits Muslim yang diriwayat dari Abu Dzar R.A, bahwa ia berkata kepada Rosululloh: “Wahai Rosululloh, mengapa engkau tidak mengangkatku menjadi pejabat?” beliau pun lalu menepuk pundak Abu Dzar seraya bersabda: “Wahai Abu Dzar, sungguh menurutku engkau seorang yang lemah (dalam manajement), sementara jabatan itu merupakan suatu amanah; dan sungguh jabatan itu kelak pada hari kiamat akan menjadi sumber kehinaan dan penyesalan, kecuali bagi orang yang memangkunya dengan benar dan mampu menunaikan apa yang telah menjadi kewajibannya.”

Dalam hadits Bukhari Muslim dari Ibnu Umar Rosululloh juga pernah bersabda: “Setiap kamu adalah pemimpin dan kelak akan dimintai pertanggungjawaban.”
Karena akan dimintai pertanggungjawaban terutama dihadapan Alloh SWT, maka orang yang beriman akan senantiasa berhati-hati dalam menjalankan amanah. Ia akan berusaha menjalankan tugas dengan baik. Selain berhati-hati orang yang beriman juga memiliki pengharapan untuk mendapatkan surga yang diperuntukan seorang pemimpin yang adil dan menjalankan amanah dengan baik .
Dalam hadits Bukhari Muslim dari Abu Hurairoh Rosululloh bersabda: “Tujuh golongan yang kelak akan mendapatkan naungan Alloh pada hari yang tak ada naungan selain naungan-Nya adalah pemimpin yang adil,…..”
Senada dengan hadits diatas dihadits Muslim dari ‘Iyadh bin Himar Rosululloh pernah bersabda: “Tiga kriteria penghuni surga adalah pemimpin yang adil dan benar, orang yang bersifat kasih sayang dan berhati lembut kepada kaum kerabat dan sesama muslim, dan orang yang menanggung nafkah keluarga namun bisa menjaga diri dari rizki yang haram.”

Dalam Quran surat al-Mukminun ayat 8 dikatakan salah satu golongan yang beruntung yang akan mewarisi surga Firdaus adalah:
“dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya”
Inilah yang seharusnya menjadi salah satu motivasi untuk bisa mengemban amanah dengan baik. Dalam diskusi menggagas kepemimpinan Muhammadiyah di Banyumas yang diselenggarakan oleh AMM beberapa waktu di aula PDM. Prof. Dr. Daelami mengungkapkan, bahwa pemimpin yang baik itu disamping bener, kober juga memiliki semangat perjuangan-bodo sepetil ora papa- yang penting memiliki semangat atau motivasi, lebih lanjut beliau menjelaskan bahwa semangat itu muncul dari jiwa yang memiliki idealisme yang ingin diperjuangkan.

Salah satu idealisme kita sebagai seorang guru Muhammadiyah adalah keinginan kita menjadikan sekolah kita maju dan bisa menjadi wadah bagi terbentuknya generasi Islam yang siap melanjutkan perjuangan Islam melalui pergerakan Muhammadiyah.
Terkait dengan hal tersebut guru muslim dan aktifis Muhammadiyah juga harus senantiasa termotivasi Surat Ali Imron ayat 104 yang sering menjadi rujukan ber-Muhammadiyah:
“dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.”

Jadi motivasi ketika kita bersedia ketika ditunjuk untuk mengemban amanah adalah karena tanggungjawab dakwah yang diemban oleh setiap muslim. Dalam sebuah hadits Rosululloh pernah bersabda bahwa jika kita melihat sebuah kemungkaran maka cegahlah dengan tangan kita, jika tidak bisa dengan lisan kita, jika tidak bisa dengan hati kita, namun inilah selemah-lemahnya iman. Tangan disini artinya kekuasaan dan kita memang akan lebih bisa mengubah sesuatu ketika kita memiliki kekuasaan.

Namun pemimpin/kepala sekolah janganlah menjadi ‘raja kecil’ yang merasa dirinya selalu benar ingin dituruti segala keinginannya dan bawahan harus menurut. Jangan Pemimpin yang baik harus siap menerima kritik dan saran dari bawahannya. Kita patut mencontoh perilaku Sahabat Rosululloh yang diangkat menjadi khalifah. Abu Bakar Ashiddiq r.a setelah diangkat menjadi khalifah berpidato:
“Sesungguhnya saya menjadi pemimpin kalian ini bukan berarti lebih baik dari kalian. Oleh karena itu, jika saya benar (dalam menjalankan amanah ini), maka bantulah! Dan seandainya saya salah (dan menyimpang), maka luruskanlah! Taatilah aku selama aku menaati Alloh, tetapi jika malah saya berbuat maksiat kepada-Nya, maka tidak ada kewajiban taat kepadaku.”

Khalifah Umar bin Khotob juga pernah mengatakan dalam pidatonya ”Barangsiapa melihat penyimpangan dalam diri saya, maka segeralah luruskan!”. Tiba-tiba seseorang dari yang hadir berdiri, dan mengatakan:”Seandainya nanti kami melihat penyimpangan dalam dirimu, maka kami akan meluruskannya dengan pedang kami.”. Dengan tersenyum Umar berkata: “Alhamdulillah, Maha Suci Alloh yang telah mengirimkan dalam umat ini orang yang akan meluruskan Umar dengan pedangnya.”

Maka control and balance dan system transparansi perlu dibangun, hal ini akan mempermudah proses keberlangsungan sebuah program ketika terjadi suksesi kepemimpinan. Bukan pemimpin yang baik apabila ia bersifat otoriter dan arogan. Seorang pemimpin harus dapat membangun kerjasama tim dan memiliki jaringan yang luas, serta bisa memaksimalkan berbagai potensi yang ada. Dalam sebuah sekolah ada siswa, guru, karyawan, orangtua, komite, yayasan, sarana prasarana, lingkungan harus dapat diberdayakan dan diperankan sesuai dengan kapasitasnya maka harus berusaha menyatukan visi serta diperlukan pembagian tugas (job description) yang jelas untuk mendukung proses pendidikan.

Semoga Alloh selalu memberi petunjuk kepada kita untuk bisa lebih baik dalam membuat keputusan

Senin, 10 Januari 2011

Muhasabah Awal Tahun

Kita diperintahkan untuk senantiasa melakukan muhasabah (introspeksi, mawas diri) sebagaimana ayat yang sering diperdengarkan oleh khotib-khotib yang diambil dari Firman Alloh SWT dalam Quran surat Al-Hasyr ayat 18 yang menyatakan:
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok ; dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Muhasabah dilakukan untuk mengevaluasi diri kita apakah kita telah menjadi manusia yang banyak melakukan amal sholeh ataukah masih banyak banyak kegiatan kita sehari-hari yang justru kita isi dengan amal salah. Apa yang sudah dilakukan sebagai bentuk amal shaleh? Sudahkah kita menjadi hamba yang taat? Sudahkah kita rutin tilawah al-Qur’an membaca dan mentadaburi surat-surat-Nya? Sudahkah malam-malam yang kita lewati, lebih sering kita gunakan untuk sujud kepada Allah, meneteskan air mata keinsyafan ataukah lebih banyak untuk begadang, menikmati tayangan-tayangan ditelevisi; sinetron, film dan sebagainya? Sudahkah kita membayar zakat dan sedekah? Langkah-langkah kaki kita, kemana kita gunakan? Pertanyaan-pertanyaan semacam ini selayaknya menemani hati dan pikiran seorang muslim yang beriman pada Allah dan Hari Akhir.

Tahun ini harus lebih baik daripada tahun kemarin. Itulah pedoman orang yang beriman yang beruntung. Bagi yang masih pelajar, hendaknya mengevaluasi diri; nilai raport semester yang lalu yang telah diterima menjadi pelajaran untuk ditingkatkan pada semester berikutnya, apakah sudah melaksanakan tugas sebagai pelajar untuk belajar dan melaksanakan tugas dengan baik, atau masih banyak hal-hal yang kurang bermanfaat yang kita lakukan. Maka memasuki semester genap ini pedoman pelajar muslim semester ini harus lebih baik dari semester sebelumnya. Lebih baik bukan hanya nilai dalam rapot tapi tingkah laku, sikap, dan akhlaq kita, semuanya harus mengalami kurva yang naik.

Bagi yang telah dewasa; apakah kita telah melaksanakan tugas dan tanggungjawab terhadap keluarga kita, sudahkah kita berikan hak-hak istri kita, anak kita; sudahkah kita didik anak kita dengan baik dan kita siapkan masa depannya; menyiapkannya menjadi generus Islam yang siap menegakan dan menjunjung tinggi agama Islam. Dalam pekerjaan apakah pekerjaan yang kita lakukan telah memiliki niat yang lurus karena menjalankan perintah dan mengharap ridlo-Nya dan apakah kita telah menunaikan dengan cara yang baik, profesional dan mendapat hasil yang maksimal,dan sesuai syariah-Nya, Umar bin Khotob R.A berkata ”Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab, timbanglah diri kalian sebelum kalian ditimbang dan persiapkanlah diri kalian sebelum datangnya hari (ketika) kalian dihadapkan kepada Alloh”.
Surat Al-Ghosyiyah: 25-26 Alloh SWT memang mengingatkan kita :
Sesungguhnya kepada Kami-lah kembali mereka, kemudian Sesungguhnya kewajiban Kami-lah menghisab mereka.

Apabila kita mau melakukan muhasabah atau mengevaluasi diri maka Insya Alloh diri akan bisa menjadi orang yang tidak hanya tahu dan suka mencari kesalahan orang lain tapi juga dapat menyadari kelemahan dan kesalahan kita, selanjutnya dengan tahu dan sadar akan kesalahan kita maka kita menjadi orang yang mau bertaubat dan orang yang bertaubat akan mampu memperbaiki diri. Seperti apa yang dikatakan oleh Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah dalam Madarijus Salikin 1 halaman 189 bahwa ”Muhasabah sangat erat kaitannya dengan taubat, karena dengan taubat seseorang akan mengintrospeksi dirinya dari perbuatan yang telah ia kerjakan dan berusaha memperbaiki segala kesalahan selama hidupnya”

Maka mari kita sadari kesalahan kita dan kita bertaubat atas dosa-dosa kita, Alloh berfirman dalam Q.S. At-Tahrim ayat 8: 
”Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mukmin yang bersama dia;...”

Orang yang mau melakukan muhasabah juga menjadi orang yang selalu merasa diawasi Alloh (muroqobah) karena ia memahami jati dirinya dan akan meningkat keyakinan dirinya akan pengawasan dan pertanggungjawaban perbuatannya dihadapan Alloh. Maka ia akan menjadi orang yang lebih terarah dalam hidup serta tercipta kekhusukan dalam beribadah kepada-Nya. Selain itu orang yang mau bermuhasabah juga akan memiliki sifat tawakal kepada Alloh karena ia akan menyadari berbagai keterbatasan dirinya dan kemahakuasaan Alloh sehingga ketika ia berusaha hasilnya akan diserahkan kepada Alloh Yang maha bijaksana.

Namun ketika kita bermuhasabah maka bukan hanya tahu kesalahan atau kekurangan dan terpuruk dengan kesalahan yang kita perbuat, tapi kita juga harus menyadari bahwa kita masih ada waktu untuk memperbaiki diri, meski kita tahu batas waktu yang diberikan-Nya maka kita tidak boleh bersantai, kita harus memanfaatkan waktu dan potensi kita, menggapai harapan untuk bisa jadi lebih baik dan menjadi orang yang sukses didunia dan akhirat.

Rabu, 15 Desember 2010

Yuk Naik Haji!

Beberapa waktu yang lalu beberapa diantara kita atau saudara kita ada yang baru saja menunaikan rukun Islam yang kelima yakni ibadah haji. Maka kita ucapkan selamat kepada yang baru saja menjadi tamu Alloh semoga menjadi haji yang mabrur dengan bukti konkritnya adalah dengan adanya peningkatan kualitas dan kuantitas beribadah kepada Alloh secara khusus maupun ibadah secara umum dalam hubungan dengan sesama makhluk. Dengan melihat saudara kita pulang menunaikan ibadah haji, tentunya kita juga ingin dapat melaksanakannya. Setiap mukmin tentunya ingin dapat melengkapi rukun Islam dengan melakukan ibadah haji.


”..mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, Yaitu (bagi) orang yang sanggup Mengadakan perjalanan ke Baitullah[216]. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), Maka Sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam”.
[216] Yaitu: orang yang sanggup mendapatkan perbekalan dan alat-alat pengangkutan serta sehat jasmani dan perjalananpun aman.
Ibadah haji adalah suatu ibadah yang memerlukan kesiapan kemampuan secara material maupun fisik. Kesiapan material disini adalah berarti diperlukan adanya dana yang cukup untuk melakukan perjalanan ke tanah suci dan kesiapan fisik dalam arti memerlukan badan yang sehat untuk melakukan perjalanan ibadah.
Oleh karena itu sebagai seorang muslim kita harus berusaha mempersiapkan diri kita untuk memenuhi panggilan tersebut. Dan jika sudah memiliki kemampuan janganlah menunda-nunda pelaksanaannya, mengingat hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Tirmidzi yang menyatakan bahwa:
”Barangsiapa yang memiliki perbekalan dan kendaraan yang dapat mengantarkannya ke Baitulloh al-Haram, tapi dia tidak pergi melaksanakan ibadah haji, maka biarlah dia mati sebagai Yahudi atau Nasrani”.
Masalah kemampuan atau kesanggupan menurut catatan Prof. Dr. H. Yunahar Ilyas, Lc, MA, salah seorang ketua PP Muhammadiyah, dalam bukunya ”Cakrawala Al-Quran, tafsir tematis tentang berbagai aspek kehidupan” terkadang kaum muslimin mendefinisikan kesanggupan secara berlebihan, Banyak diantara kita yang menunggu semua anak-anak kita dewasa, kalau sudah sarjana semua, sudah berkeluarga semua, kalau rumahnya sudah bagus, kalau dah punya mobil. Sebelum semua kebutuhan terhadap keluarganya terpenuhi dia belum merasa wajib untuk beribadah haji, padahal kebutuhan terhadap keluarga tidak pernah berhenti, setelah anak-anak dewasa nanti akan direpotkan lagi oleh cucu, menantu atau diri sendiri yang sudah semakin renta. Dan memang kita bisa melihat terutama di Jawa dibanding dengan daerah lain, orang Jawa yang menunaikan ibadah haji biasanya umurnya lebih tua atau pensiunan.
Padahal ibadah haji membutuhkan fisik yang sehat dan kuat, mengapa tidak kita balik pemikiran/falsafah hidup kita, kepada yang masih muda terutama mari sebelum anak-anak kita dewasa dan membutuhkan biaya besar kita sudah harus bisa melaksanakan ibadah haji. Dalam ibadah kita perlu memotivasi diri agar semangat dan berusaha sekuat tenaga agar dapat melaksanakan suatu ibadah.
Ada juga diantara kaum muslim yang sebenarnya sudah memiliki kemampuan tapi merasa belum mendapat panggilan dari Alloh. Padahal seharusnya kita senantiasa terpanggil manakala membaca Al-Quran surat Al-Hajj ayat 27:
“dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus[984] yang datang dari segenap penjuru yang jau”h,
[984] Unta yang kurus menggambarkan jauh dan sukarnya yang ditempuh oleh jemaah haji.
Mari jangan kita biarkan diri kita tidak memiliki niat untuk menunaikan ibadah haji, niat tidak ditarik bayaran dengan hanya niat saja kita telah memiliki pahala. Lebih-lebih dengan adanya niat lantas kita menjadi semangat untuk berusaha mencari rizki yang halal, mengatur rizki yang ada agar dapat menabung untuk dapat melaksanakannya maka usaha kita dan hidup kita akan bertambah nilai ibadahnya. Kita mencari harta bukan sekedar untuk mencapai kebahagiaan hidup didunia tapi usaha kita dalam mencari harta adalah agar kita bisa beribadah kepada Alloh dan mengharap ridlo-Nya dan mencapai kebahagiaan yang kekal abadi di akhirat.
Al-Qur’an surat Al-Qoshosh : 77 menyatakan:
“dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri
akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan
berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusaka”n.
Disamping itu Adzariyat :56 harus kita ingat selalu bahwa:
”dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku”.
Maka apapun yang kita lakukan harus memiliki nilai ibadah, termasuk mencari harta. Mencari harta akan bernilai ibadah jika kita memiliki tujuan yang baik dan dilaksanakan sesuai dengan kaidah-kaidah yang telah ditentukan oleh Alloh dan Rosul-Nya. Perhatikan halal haramnya, jangan mencuri, korupsi, suap, riba dan hal-hal yang dilarang oleh agama lainnya. Maka janganlah kita seperti orang yang memiliki pemikiran picik dengan ucapannya: nggolet sing haram be susah apamaning sing halal.
Aja kaya kuwe la yaa......
ngGolet sing haram be ana nggo ngapa nggolet sing haram...ndadekna ra berkah lan mlebu neraka.....

Selasa, 07 Desember 2010

Prediksi Soal US IPS kelas IX

1. Negara-negara yang berada di Benua Amerika adalah …
a. Kanada, Swiss, Haiti
b. Mexico, Argentina, Chili
c. Austria, Polandia, Guatemala
d. Amerika Serikat, Sudan, Kuba
2. Berikut ini yang tergolong sebagai negara maju adalah …
a. Jepang, Inggris, Perancis
b. Australia, Arab Saudi, China
c. Bulgaria, Elsavador, Mesir
d. Belanda, Jerman, Irak
3. Dibawah ini yang merupakan ciri-ciri negara maju adalah …
a. tingkat pengangguran tinggi
b. pertumbuhan penduduknya tinggi
c. pendapatan perkapita rendah
d. tingkat kesehatan tinggi
4. Penyebab khusus Perang Dunia II adalah …
a. adanya perlombaan senjata
b. serangan Jerman atas Polandia
c. terbentuknya blok barat dan blok timur
d. serangan Jepang atas rusia
5. Perang Dunia ke II berakhir pada tahun ….
a. 1905
b. 1918
c. 1939
d. 1945
6. Dibawah ini yang termasuk negara fasis adalah …
a. Inggris dan Perancis
b. Belanda dan Belgia
c. Jerman dan Italia
d. Jepang dan Korea
7. Berikut ini yang bukan propaganda gerakan 3 A adalah…
a. Jepang cahaya Asia
b. Jepang pemimpin Asia
c. Jepang penguasa Asia
d. Jepang pelindung Asia
8. Dampak pendudukan Jepang terhadap kehidupan ekonomi Bangsa Indonesia adalah…
a. kelaparan dimana-mana
b. Indonesia merdeka
c. rakyat mengenal teknologi perang
d. perlawanan rakyat terhadap Jepang
9. Jepang menyerah kepada Sekutu pada tanggal ….
a. 6 Agustus 1945
b. 9 Agustus 1945
c. 15 Agustus 1945
d. 25 Agustus 1945
10. Wilayah-wilayah yang diduduki Jepang pertama kali adalah…
a. Jakarta dan Surabaya
b. Tarakan dan Balikpapan
c. Yogyakarta dan Medan
d. Banjarmasin dan Makasar

Jumat, 12 November 2010

Lembar kerja: Wawancara Profesi


Nama responden :
Alamat :
Umur :
Pendidikan :
Pekerjaan :

Apa alasan memilih profesi tersebut?

Berapa penghasilan rata2/bulan?
Adakah penghasilan tambahan dalam keluarga? berapa?
Berapa jumlah tanggungan keluarga?
Berapa jam dalam sehari pekerjaan ini dilakukan? Adakah hari liburnya?

Apakah sebelumnya pernah menggeluti pekerjaan lain?
Kalau ya : pekerjaan apa? Mengapa beralih profesi?

Apakah pekerjaan sekarang sesuai dengan cita-cita dulu :
Mengapa?

Apa suka dan dukanya menggeluti pekerjaan tersebut?

Apakah profesi tersebut ingin diturunkan kepada anak-anaknya? Mengapa?
Kata Kunci Guru Dalam: Google,artikel,Blogger guru,guru kata,kata guru,guru dai,kata kunci,keywords,sertifikasi guru,artikel,Blogger,guru,guru kata,kata guru,kata kunci,sismanan,mts muhammadiyah patikraja,ma muhammadiyah purwokerto,info banyumas,dai banyumas,sertifikasi guru,patikraja guyub
Flag Counter