Kamis, 12 Februari 2015

Karya Alifah: CABUT GIGI: SIAPA TAKUT?



“Aww...“ jerit Chika kesakitan. Ya dia memang sedang sakit gigi, sebenarnya dokter menyarankan agar Chika cabut gigi, tapi ia takut bila giginya harus dicabut.
”Ada apa sayang? Gigi kamu sakit lagi?“ kata mama khawatir. ”Makanya gigi kamu di cabut aja ya, supaya enggak sakit” nasehat mama.
”Enggak! Pokoknya Chika gak mau dicabut” bentak Chika.
”Sayang... kan bukan kamu yang dicabut tapi giginya, jadi kamu nggak akan merasa sakit” ledek mama sambil membujuk Chika.
”Sama aja” kata Chika sambil berlari ke kamarnya. Mama hanya tersenyum. 
Di kamar Chika mengambil handphone-nya. Ia melihat ada SMS, dia pun membuka SMS itu. Ternyata itu SMS dari Anita, temannya. Isinya begini:
“Chika, km ada acara ga’?
Kalo gx, temenin aq ke toko buku Gramedia?
itu kan toko buku kesukaanmu?”
@ Anita
Wah Anita ngajak aku ke Gramedia. Asyik nih bisa jalan-jalan sekaligus beli buku... tapi boleh nggak ya sama mama? pikir Chika. “Ma... Chika diajak Anita ke Gramedia,  boleh ya Ma?” rengek Chika. Dengan lembut mama menjawab “boleh... asal pulangnya tidak kesorean”. Setelah diperbolehkan oleh mamanya, Chika membalas SMS dari Anita yang isinya :
‘Tentu aja aq mo nemenin kamu.
Sampai nanti ya...’
@Chika
Sesampainya di toko buku, Chika dan Anita masuk ke dalam toko, memilih buku yang mereka suka. Chika membeli buku cerita KKPK, dan sebuah DVD. Sementara Anita membeli buku cerita KKPK, Bank Soal SD Kelas II, buku gambar, pensil, dan 2 buah kertas karton. Kemudian mereka keluar toko buku tersebut.
“Nit, bagaimana kalau kita ke Chocochip Ice Cream dulu?” tanya Chika.
“Ayo...” jawab Anita.
Di Chocochip Ice Cream...
“Silahkan adik manis... kalian mau memesan apa?” tanya seorang pelayan sambil menghampiri mereka berdua.
“Saya Chocochip Ice Cream ya...” kata Chika.
“Kalau saya...” kata Anita bingung. ”Mix fruits, tapi enggak pakai strawberry... ok?” lanjutnya.
“Tunggu sebentar ya...” kata pelayan sambil berlalu.
Chika dan Anita hanya tersenyum. Sambil menunggu pesanan, mereka membaca buku yang tadi mereka beli. Saking asyiknya, ternyata ice cream yang tadi mereka pesan sudah ada di hadapan mereka. Saat memakannya, gigi Chika mulai terasa sakit.
“Aww... Sakit” katanya sambil memegangi giginya yang sakit.
“Kamu kenapa Chika? Gigimu sakit?” tanya Anita sambil terus memakan ice mix fruits-nya.
“Iya, tapi nggak papa kok Nit” jawab Chika.
“Apa gigi kamu perlu dicabut?” tanya Anita.
“Sebenarnya iya, tapi aku takut” jawab Chika. ”Apa kamu pernah mengalaminya Nita?” lanjutnya.
“Aku pernah mengalaminya. Awalnya aku memang takut sepertimu, tapi ibuku membujukku agar gigiku dicabut. Kata ibuku, tidak sakit kok. Sampai akhirnya, aku mau. Kemudian gigiku dicabut deh... Tapi, itu semua benar-benar nggak sakit, malah aku senang. Setelah dicabut, aku diberi hadiah oleh dokter, hadiahnya, adalah lolipop. Aku juga dikasih ice cream lho, oleh ibuku” kata Anita dengan panjang lebar.
“Wah, Asyik sekali ya...” komentar Chika. ”Kalau boleh tau, siapa dokternya?” tanyanya.
“Namanya dokter Herman. Dokter Herman itu baiiiiik banget. Jadi apa sekarang kamu sudah berani untuk cabut gigi?” Jawab Anita sekaligus bertanya.
“Oooooh” sahut Chika ber-oh panjang. ”Mmm... Oke, sekarang aku siap!” kata Chika mantap.
Dua gadis itu pun kembali ke rumah masing-masing.
Sesampainya dirumah, Chika segera memberi salam dan menyampaikan keinginannya  kepada mamanya bahwa Chika mau dicabut giginya.
“Assalaamu’alaikum Mah...” salam Chika sambil duduk di sebelah mamanya yang sedang membaca majalah.
“Wa’alaikum salam Sayang...” jawab mama.
“Mama, aku sekarang mau gigi aku dicabut deh Mah” kata Chika membuka pembicaraan.
“Yang bener Sayang?” tanya mama tidak percaya.
“Iya Ma,  eits... Tapi dengan satu sarat Ma...” kata Chika sehingga membuat mama bingung.
“Apa saratnya?” tanya mama lagi.
“Cabut giginya harus di tempat dokter Herman ya Ma” kata Chika memberi tau syaratnya.
“Ok, sayang. Ya udah sekarang kamu mandi ya. Besok, sepulang sekolah mama jemput kamu dan kemudian ke tempat dokter Herman”
Chika hanya tersenyum dan langsung pergi untuk mandi.

---OoO---
Saat pulang sekolah...
‘Tin... tiiin...’ terdengar suara klakson mobil mama.
“Anita, Shelly, Farel, Rama, aku pulang dulu ya... sampai ketemu besok pagi” kata Chika sembari melambaikan tangan kapada sahabat-sahabatnya lalu masuk ke mobil yang dikendarai mama.
“Mah, ayo kita ke klinik Dokter Herman” kata Chika saat didalam mobil.
“Lets go...“ sahut mama.

Di Klinik Sehat Dokter Herman...
“Silahkan duduk adik manis... Bu, silahkan duduk” sapa dokter Herman ramah. Chika dan mama pun duduk. ”Maaf, ini siapa yang sakit ya?”
“Ini Dok, anak saya mau cabut gigi, bisakan Dok?” jawab mama plus bertanya.
“Oh...tentu. Mari adik manis...” dokter pun membopong Chika ke tempat untuk cabut gigi. ”Adik, tolong buka mulutnya ya...” Chika pun membuka mulutnya.
‘Klek’ gigi Chika pun selesai dicabut. Chika tidak merasakan apa-apa.
“Selesai...” kata dokter sembari tersenyum memandang Chika.
“Terimakasih dokter...” kata Chika lalu turun dari kursi yang tadi ia duduki.
“Sama-sama” kata dokter Herman. ”Ini hadiah untukmu dik” kata dokter Herman sambil memberikan sebuah lolipop kepada Chika. Chika amat senang.
Setelah itu, mama mengajak Chika jaan-jalan. Mama dan Chika pergi ke mall. Disana, ia bermain di Time Zone kemudian membeli buku cerita di toko buku Gramedia. Selanjutnya, mama mengajak Chika ke Chocochip Ice Cream.  Selain ice cream, disana juga ada menu makanannya lho... Chika memesan sebuah ice cream chocochip vanila, nasi goreng spesial, dan segelas jus mangga. Itu semua, adalah makanan kesukaan Chika. ( juga penulisnya :D).
Hari ini, Chika sannngggat senang. It’s fun day....
---OoO---

Rabu, 11 Februari 2015

Cerpen Anak : Hadiah Terakhir Untuk Bundaku Sayang



“Selamat pagi Bunda” sapaku pada Bunda. Meski kutahu, Bunda tak akan membalasnya, namun aku yakin bahwa Bunda pasti mendengarnya.
   “Bunda, doakan Sheyla ya, hari ini Sheyla mau berlomba lagi. Semoga di lomba kali ini, Sheyla bisa mendapatkan juara kembali, amin...” kata Sheyla sambil terus memegangi tangan bundanya.
   ‘Kreeek...’ terdengar suara pintu yang terbuka.
   “Sudah minta izin sama Bunda?” tanya Oma.
   “Sudah Oma” jawabku tersenyum.
“Kalau gitu, ayo kita berangkat!” seru Oma bersemangat.
“Ayo!” jawabku tak kalah semangat. “Bunda, Sheyla berangkat dulu ya Bun. Jangan lupa doakan Sheyla” kemudian, aku pun mencium Bunda.
“Assalamu’alaikum Bunda”
Setelah berpamitan pada Bunda, aku dan nenek pun keluar dari ruang rawat Bunda. Kalian tahu? Hari ini aku akan berlomba di tingkat nasional! Aku mengikuti perlombaan Olimpiade Matematika. Dan sekarang, aku dan Oma akan pergi ke SMA MBS Yogyakarta, tempat dilaksanakannya lomba.
Aku pergi tidak hanya bersama Oma, aku juga pergi bersama Bu Laila. Bu Laila adalah guru Matematika di sekolahku. Beliaulah yang selalu mengajariku sehingga aku dapat mengikuti lomba Olimpiade ini hingga ke tingkat nasional. Terimakasih Bu Laila.
Kami pergi menaiki mobil milik Bu Laila. Selama perjalanan, aku hanya mendengarkan musik melalui handphone Oma. Lagu yang kudengarkan hanya satu lagu. Yaitu lagu dengan judul Lagu Cinta Untuk Mama. Lagu ini adalah lagu yang dinyanyikan oleh seorang penyanyi cilik bernama Kenny. Begini lagunya...

Kenny – Lagu Cinta Untuk Mama

Apa yang kuberikan untuk mama
Untuk mama tersayang
Tak kumiliki sesuatu berharga
Untuk mama tercinta
               ~Hanya ini kunyanyikan
                 Senandung dari hatiku untuk mama
                 Hanya sebuah lagu sederhana
                 Lagu cintaku untuk mama
Walau tak dapat selalu kuungkapkan
Kata cintaku tuk mama
Namun dengarlah hatiku berkata
Sungguh kusayang padamu mama
               Hanya ini kunyanyikan
               Senandung dari hatiku untuk mama
               Hanya sebuah lagu sederhana
               Lagu cintaku untuk mama

Setelah puluhan kali menndengar lagu itu, aku pun tertidur. Ya, mungkin karena aku kecapean. Hehehe... Aku tidur dulu ya. Zzz...
---OoO---
Sekarang, aku sudah sampai di SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta. Sebenarnya sih, aku masih capek. Tetapi, demi mendapatkan juara, aku harus tetap bersemangat. SEMANGAT!
“Sheyla, Bu Guru mau mendaftar ulang dulu ya...” pamit Bu Laila.
“Iya Bu...” Kemudian, Bu Laila pun pergi ke tempat pendaftaran ulang. Aku dan Oma hanya menunggu sambil terus berdoa.
“Ayo, Shey... Ini nomer pesertanya” ajak Bu Laila. Kami pun pergi menuju tempat lomba. Setelah sepuluh menit kami menunggu, perlombaan pun di mulai...
---OoO---
Saat ini waktunya pengumuman lomba.
“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh” salam seorang panitia lomba.
“Wa’alaikum salam” jawab para hadirin, termasuk aku.
“Sekarang, waktunya pengumuman pemenang lomba Olimpiade Matematika. Juara tiga, diraih oleh... Varasya Amalia, dari SD Muhammadiyah 3 Yogyakarta. Juara dua diraih oleh... Muhammad Alviano, dari MI Muhammadiyah 1 Boyolali. Dan... Untuk juara pertama diraih oleh... Aulia Sheyla Putri, dari MI Muhammadiyah Kedungwuluh Lor. Selamat bagi para pemenang lomba, silahkan maju ke depan! perintah sang MC.
Dan... Aku menang? Juara satu? Horeee... Aku pun maju ke depan. Di depan aku di sodorkan sebuah mic. Aku bingung... Apa yang harus ku katakan?
“Assalamu’alaikum... Disini, saya hanya ingin mengucapkan terimakasih pada Allah, pada Bu Laila, pada Oma dan tentunya untuk Bundaku tercinta yang telah mendoakanku. Bunda... Aku menang...” kataku di depan seluruh hadirin.
---OoO---
Aku telah sampai, dan kembali ke Rumah Sakit tempat Bunda dirawat. Aku tak sabar ingin memberi tahukan kepada Bunda.
‘Kreek... pintu kamar Bunda telah aku buka.
“Bunda... Aku menang...” seruku. Tapi... “Bunda kenapa Yah? Kenapa tubuh Bunda di tutupi selimut?” tanyaku kebingungan.
Ayah memelukku. “Sayang, Bunda sudah tidak ada lagi, Bunda sudah tenang di Surga...” kata Ayah lembut. Tapi... Bunda sudah tidak ada? Apa maksud ayah? Apa Bunda sudah... “Nggaaak.... Bundaaa... bangun Bunda... Sheyla menang Bun... Bunda pasti ingin lihat pialanya kan? Ini pialanya Bun... Bunda banguuuun,...”
Satu jam kemudian, aku sudah mulai tenang...
“Sheyla jangan nangis teruuus...” kata Ayah.
“Tapi Bunda, Yah...”
“Bunda tidah apa-apa... Bunda sudah tenang di Surga”
“Di Surga???”
“Iya di Surga...”
“Berarti Bunda sudah bahagia dong Yah?”
“Iya... jadi kamu enggak boleh nangis lagi... Kalau kamu nangis, nanti Bunda sedih...”
“Iya Yah... Tapi kan Sheyla belum sempat nunjukin piala ini ke Bunda”
“Enggak apa-apa... Yang penting Bunda sudah tahu bahwa Sheyla hebat!”
“Iya... Makasih ya, Yah...”
“Sama-sama...”
Aku pun menatap Bundaku tercinta... “Bunda ini hadiah dari Sheyla untuk Bunda...” kataku sambil menunjukan piala tersebut pada Bunda.
Bunda, teruslah tersenyum... Jangan menangis... =D
---OoO---

Cerpen Alifah:I Have A Dream





I have a dream
A song to sing
To help me cope
With anything
If you see the wonder
Of a fairy tale
You can take the future
Even if you fail
I believe in angels
Something good in everything I see
I believe in angels
When I know the time is right for me
I’ll cross the stream – I have a dream

         Lagu itu mengalun indah dari mulut seorang gadis kecil. Luna namanya. Dia adalah anak dari seorang tukang becak. Ibunya hanya ibu rumah tangga. Malang benar nasibnya, karena orang tuanya tidak punya uang, akhirnya ia pun berhenti bersekolah. Mungkin, bila ia masih bersekolah sekarang ia sudah kelas tiga SD.
         Ia memiliki sebuah mimpi yang sangat sederhana, memberikan ibu mukena. Itu mimpinya. Ibunya memang tak memiliki mukena. Bila shalat, ibunya hanya memakai sarung dan kerudung. Sementara Luna? Dia memakai mukena ibunya yang memang sudah sangat kecil.
---OoO---
         Siang ini, terlihat seorang gadis cilik yang berpenampilan lusuh dengan badan yang kotor. Gadis ini sedang memunguti sampah bersama ibunya. Dia adalah Luna Safitri. Sudah dari pagi sampai siang ini, mereka masih berada di pinggir jalan sembari terus memunguti sampah yang ada di sekeliling mereka.
‘Uhuk-uhuk...’ terdengar suara batuk dari mulut ibu Luna.
“Ibu kenapa Bu?” tanya Luna.
“Hah, badan ibu panas sekali  Ya Allah...” lanjutnya.
“Ibu nggak papa sayang”
“Ibu, lebih baik sekarang Ibu pulang dulu Bu” saran Luna.
“Terus, nanti siapa yang akan memunguti sampah ini Nak?” tanya ibu.
“Biar Luna saja Bu”
“Tapi sayang...”
“Nggak papa kok Bu”
“Ya sudah, kalau begitu ibu pulang dulu ya Nak” kata ibu lalu meninggalkan Luna yang masih menatap ibunya iba.
“Sekarang, aku harus mencari sampah yang banyak, supaya bisa membelikan ibu obat dan mukena” seru Luna bersemangat. Lalu Luna pun mulai kembali mencari sampah.
‘Allahu Akbar Allahu Akbar...’
Terdengar suara adzan dari Masjid Al-Hikmah. Luna pun menghentikan pekerjaannya lalu berjalan menuju masjid, mengambil air wudhu kemudian menunaikan shalat dhuhur. Setelah shalat, Luna pun berdoa kepada Allah SWT.
“Ya Allah... Tolong Ya Allah... Sembuhkanlah ibuku Ya Allah... Agar ibu bisa kembali sehat seperti semula dan bisa kembali bekerja”
“Ya Allah... Limpahkanlah rejeki kepada keluarga kami. Semoga hari ini bapak pulang membawa uang dan makanan untuk makan ibu. Semoga aku juga dapat membelikan ibu obat dan juga mukena, agar ibu bisa shalat dengan mukena. Tidak dengan sarung dan kerudung. Amin...”
        Setelah berdoa, Luna pun keluar masjid. Saat ia akan pergi meninggalkan masjid, tiba-tiba ia melihat ada seorang laki-laki yang akan mencopet seorang ibu. Lalu dia pun segera memukul laki-laki itu dengan sapu yang ia ambil dari masjid.
‘Pluk! Pluk! Pluk!’
“Aww...”
‘Degh!’
          Setelah Luna memukul lelaki itu, ternyata lelaki itu malah menendangnya dan segera kabur. Luna pun tersungkur jatuh. Lututnya berdarah. Orang-orang pun mengelilinginya. Ibu-ibu tadi pun segera menolong Luna.
         Setelah orang-orang pergi, ibu itu pun berkata “Terimakasih ya nak, mungkin kalau tidak ada kamu tadi ibu sudah kecopetan dan tidak bisa pulang ke rumah”
“Iya Bu... Sama-sama” jawab Luna.
“Ini, ada sedikit uang untukmu, karena tadi kamu sudah menolong ibu” ucap ibu itu seraya memberikan selembar uang Rp. 50.000,00 kepada Luna.
“Tidak usah Bu... ” kata Luna menolak.
“Sudah, terima saja, rejeki itu tidak boleh ditolak” paksa ibu itu.
“Te... te... terimakasih Bu...” jawab Luna sembari menerima uang yang ibu itu sodorkan.
“Oh ya, ada satu lagi. Ini, untukmu” kata ibu itu sambil memberika sebuah plastik kecil berwarna putih.
“Apa ini Bu?” tanya Luna.
“Itu mukena untuk ibumu”
“Dari mana ibu tahu saya ingin memberikan mukena untuk ibu saya?”
“Tadi, ibu tidak sengaja mendengar doamu”
“Jadi, ini beneran untuk saya?”
“Iya. Tapi dengan satu syarat!” seru ibu itu.
“Sya-syarat???”
“Iya. Kamu harus segera pulang. Gunakan uang itu untuk membeli obat untuk ibumu, dan berikan mukena itu agar ibumu bisa shalat dengan mukena”
“Baik Bu, Terimakasih” Luna pun segera berlari menuju rumahnya, sebelum ke rumah ia terlebih dahulu mampir ke warung untuk membeli obat.
        Sesampainya di rumah ia pun segera berlari dan memeluk ibunya yang sedang duduk di tempat tidur
“Ibu... hiks hiks”
“Luna? Ada apa sayang? Kamu kenapa?” tanya ibu panik.
“Ini, untuk ibu...” kata Luna lalu memberikan mukena tadi kepada ibunya.
“Mukena? Mukena siapa ini Luna???”
“Ini mukena milik ibu-ibu yang tadi Luna tolong. Ibu itu memberikan mukena ini kepada ibu” jelas Luna.
“Apa??? Ya Allah... Terimakasih Ya Allah...”
---OoO---
Kata Kunci Guru Dalam: Google,artikel,Blogger guru,guru kata,kata guru,guru dai,kata kunci,keywords,sertifikasi guru,artikel,Blogger,guru,guru kata,kata guru,kata kunci,sismanan,mts muhammadiyah patikraja,ma muhammadiyah purwokerto,info banyumas,dai banyumas,sertifikasi guru,patikraja guyub
Flag Counter