Kamis, 05 November 2009

BERKURBAN SEBAGAI MANIFESTASI KETAQWAAN

Allah Maha Besar Maha Agung, sungguh segala puji hanya milik-Nya, dan Maha Suci Allah di waktu pagi dan petang. Tiada ilaah kecuali Allah, Yang Mahaesa, tiada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya segenap kerajaan, milik-Nya pula kerajan langit dan bumi dan Dia Maha kuasa atas segala sesuatu.
Tidak lama lagi kita bersama akan memasuki bulan dzulhijah. Dan bulan dzulhijah merupakan salah satu bulan yang dimuliakan oleh Alloh, karena pada bulan ini terdapat ritual yang merupakan salah satu rukun Islam, yaitu ibadah haji serta adanya hari raya Idul adha yang merupakan satu diantara dua hari raya milik umat Islam.
Dalam sebuah hadits dari Anas R.A beliau berkata”Nabi SAW datang , sedangkan penduduk Madinah dimasa Jahiliyah memiliki dua hari raya yang mereka bersuka ria padanya (tahun baru dan hari pemuda) maka (beliau) bersabda “Aku datang kepada kalian, sedang kalian memiliki dua hari raya yang kalian bersuka ria padanya dimasa jahiliyah, kemudian Alloh menggantikan untuk kalian dua hari raya yang lebih baik dari keduanya; hari Idul Qurban dan Idul Fitri.” (H.R Ahmad, Abu Daud, An-Nasai dan Al-Baghawi).
Kata Idul Adha atau Idul Qurban artinya kembali kepada semangat berkurban. Dalam Idul Adha dan Ibadah haji maka kita akan mengenang kembali sosok manusia pilihan bapak para nabi yang seringkali penghormatan kita berikan melalui sholawat yang kita ucapkan. Beliau adalah nabiyulloh Ibrahim a.s . dan juga puteranya Ismail a.s sebagai Nabi dan Rosul pilihan yang patut kita teladani dalam kehidupan. Keteladan tersebut terutama dalam hal ketaatannya kepada perintah-perintah Alloh. Tanpa banyak alasan maka apapun perintah Alloh maka akan dilakukannya, hal tersebut dilakukannya walaupun harus membunuh anak yang sangat disayangi dan telah ditunggu kehadirannya berpuluh-puluh tahun. Kisah ini diceritakan dalam Q.S Ash-Shoffaat : 100-111:
“Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh. Maka Kami memberi dia kabar gembira dengan seorang anak yang sangat sabar. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!”. Ia menjawab ”Hai bapaku , kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; Insya Allloh kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. Tatkala keduanya telah berserah dan Ibrohim membaringkan anaknya ataspelipisnya (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggilah dia, “Hai Ibrohim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik”. “Sesungguhnya ini benar-benar ujian yang nyata. Dan kami menebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar”. Kami abadikan untuk Ibrohim itu (pujian yang baik) dikalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) “Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim”. Demikianlah kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.
Dalam surah Ash Shaffat 100-111 tersebut , Allah swt. menggambarkan ketaqwaan yang tinggi dari nabi Ibrahim dalam melaksanakan perintah Tuhannya. Salah satu tanda dari ketaqwaan seseorang adalah bersegera melaksanakan perintah dan tidak ada ragu-ragu. Ini nampak ketika nabi Ibrahim langsung menemui putranya Ismail begitu mendapatkan perintah untuk menyembelihnya. Di saat yang sama ia langsung menawarkan perintah tersebut kepada puteranya. Dan ternyata sang putera salehnyapun memperlihatkan sifat yang sama, dengan ucapan:
“Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”
“Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis (nya), (nyatalah kesabaran keduanya).”
Inilah pemandangan yang sangat menegangkan. Bayangkan seorang ayah dengan tegar tengah bersiap-siap menyembelih anak yang telah ditunggu-tunggu kehadiranya dan sangat dicintainya tanpa keraguan sedikitpun karena merupakan perintah Alloh.
Keduanya menyadari bahwa perintah Alloh pastilah benar dan terbebas dari kekeliruan. Kata aslamaa yang artinya keduanya berserah diri menunjukkan makna bahwa penyerahan diri tersebut tidak hanya terjadi sepihak, melainkan kedua belah pihak baik dari Ibrahim maupun Ismail. Di sanalah hakikat kehambaan benar-benar nampak. Bahwa sang hamba tidak ada pilihan kecuali patuh secara tulus kepada Tuhannya. Sebagai hamba tidaklah layak melakukan pembangkangan terhadap perintah Tuhan. Suatu teladan kehambaan yang harus ditiru setiap orang beriman yang berjuang menuju derajat kehambaan. Karenanya pada ayat 111 setelah itu, Allah menegaskan bahwa keduanya benar-benar hamba-Nya yang beriman, Allah berfirman: “Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.”
Jadi untuk dapat dikatakan sebagai orang yang beriman kita harus dapat menunjukan bukti ketaatan kita kepada-Nya. Nabi Ibrahim dan nabi Ismail telah membuktikan kedua hal tersebut dengan melaksanakan penyembelihan dan pengorbanan nyawa.
Apa yang telah kita lakukan sebagai bukti keimanan dan ketaqwaan kita kepada Alloh? Pengorbanan apa yang telah kita persembahkan sebagai bukti bahwa kita hamba-Nya yang saleh?
Menyembelih binatang kurban pada hari Raya Idul Adha atau pada hari tasyrik bagi orang yang mampu merupakan salah satu bukti kataatan kita kepada-Nya.
Dari Abu Hurairoh R.A, ia berkata, Rosululloh SAW bersabda: ”Barangsiapa memiliki kelapangan (kemampuan) kemudian tidak berkurban, maka janganlah dia mendekati tempat sholat ied kami.”. (H.R Ahmad, Ibnu Majah, Ad-Daruqutni, Al-Hakim).
Oleh karena itu maka bersiaplah untuk melapangkan diri atau memampukan diri kita dengan menyisihkan harta kita untuk membeli binatang sembelihan sebagai manifestasi keimanan dan ketaqwaan yang ada pada diri kita dan sebagai bentuk rasa syukur kita atas nikmat yang telah Alloh berikan kepada kita. Alloh SWT berfirman dalam Q.S Al-Kautsar:1-2:
”Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu ni'mat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah.”
Sedangkan di dalam Q.S Al-Hajj ayat : 34-37 dinyatakan:
”Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan , supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzkikan Allah kepada mereka, maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh”,
”orang-orang yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, orang-orang yang sabar terhadap apa yang menimpa mereka, orang-orang yang mendirikan sembahyang dan orang-orang yang menafkahkan sebagian dari apa yang telah Kami rezkikan kepada mereka”.
”Dan telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebahagian dari syi'ar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya, maka sebutlah olehmu nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri . Kemudian apabila telah roboh , maka makanlah sebahagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya dan orang yang meminta. Demikianlah Kami telah menundukkan untua-unta itu kepada kamu, mudah-mudahan kamu bersyukur”.
”Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik ”
Perlu menjadi koreksi kita bersama dalam pelaksanaan idul adha, janganlah kita hanya mengambil sisi ritualnya saja berupa sholat ied dan berkurban tapi meninggalkan hakikat dan makna idul adha yang sesungguhnya, berupa kesiapan untuk melakukan ketaatan dan pengorbanan yang sesungguhnya tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu. Janganlah kita merayakan Idul Adha setiap tahun, tetapi perilaku kesehariannya menginjak-injak ajaran Allah swt. Hukum-hukumnya sering kita lecehkan; perintah-Nya kita abaikan, dan apa yang diharamkan oleh-Nya justru kita langgar.
Bukankah Allah berfirman:
”yaa ayyuhaladzii na aamanu udkhuluu fissilmi kaafaah”
Mari kita menjadi muslim yang kaffah, yang siap melakukan ketaatan dan berkorban setiap saat dan dimanapun kita berada. Jangan kita menjadi orang yang melakukan ketaatan dan berkurban dibulan dzulhijah tapi setelah itu enggan untuk berkurban untuk perjuangan menegakan Islam dan membangun masyarakat, sebagaimana banyak orang yang rajin mentaati Allah di bulan Ramadhan saja, sementara di bulan sesudahnya tidak ada bekasnya. Atau mereka yang semangat beribadah ditanah suci tapi ketika pulang dinegerinya sendiri mereka gemar berbuat dosa lagi.
Mari kita bangun masyarakat kita karena berkurban juga memiliki dimensi sosial dan kepedulian terhadap kaum miskin dengan berbagi daging kurban. Mari kurbankan harta kita, waktu kita dan pikiran kita untuk dapat membawa masyarakat dan umat ini agar mencapai kemajuan baik kemajuan rohani maupun kemajuan jasmani ; jiwa maupun raga; akhirat ataupun dunia.

0 komentar:

Kata Kunci Guru Dalam: Google,artikel,Blogger guru,guru kata,kata guru,guru dai,kata kunci,keywords,sertifikasi guru,artikel,Blogger,guru,guru kata,kata guru,kata kunci,sismanan,mts muhammadiyah patikraja,ma muhammadiyah purwokerto,info banyumas,dai banyumas,sertifikasi guru,patikraja guyub

Powered by : pulsamantap.com